Malam di Jelang Pekan Nelayan Sang Komandan

002-3.jpg

Tribratanewsbandaaceh – Laju Suzuki Grand Vitara dinas milik Kapolresta Banda Aceh Kombes T. Saladin SH melambat memasuki kawasan Simpang Dodik, Lamteumen Banda Aceh, Rabu (4/5/2017) kemarin. Kondisi ini membuat pengemudi Mitsubishi Outlander ditumpangi Dandim 0101/BS Letkol. Inf. Iwan Rosandriyanto, harus menjaga jarak agar tak bertabrakan.

Keduan pejabat TNI /Polri itu baru menyelesaikan Rapat Kordinasi Terakhir terkait pengamanan Penas di Aula Makchdum Sakti Polresta Banda Aceh. Bukannya mengambil arah menuju kediaman di kawasan Asrama Polisi Punge, dan Komplek Kraton seputaran Kodim 0101/BS, mereka justru menuju Ajune Jeumpet.

Setelah target yang dituju pasti, kedua kendaraan kembali melaju. Berbeda sebelumnya, sang ajudan harus ekstra hati-hati karena rute dipilih jalan  Desa yang memiliki lebar sekitar 4 meter.15 menit setelahnya, kendaraan berwarna coklat dan hijau itu, masuk ke sebuah lorong sempit dan parkir dirumah warga.

“Bukan disini Dan! sudah pindah,”kata anggota Bhabinkantibmas Polsek Darul Imarah, melihat duo Komandan, turun dari kendaraan dinasnya. Ia baru saja menghubungi seseorang menggunakan telpon genggam.

Hawa sejuk terasa menusuk tulang. Maklum jam sudah menunjukkan pukul 00.00 Wib, Kamis dini hari. “Pindah kemana,”tanya Saladin pada personel polri berpangkat brigadir itu.

“Menginapnya tetap dirumah warga, tapi untuk posko menempati ruko Dan,”jawab pria berpakaian preman itu, menunjuk ruko dimaksud. ‘Dan’ dimaksud merupakan Kapolresta Banda Aceh.

Deru mesin dari kendaraan jenis Suzuki dengan nomor I-28 itupun, kembali berderu membelah kesunyian malam. Keduannya mengikuti rute yang diarahkan sang brigadir polisi, menuju Ruko yang dijadikan Posko Bagi peserta Penas 15 asal Provinsi Papua.

“Disini ada sekitar 1000 peserta yang awalnya mendaftar, tapi baru 400 orang yang sudah tiba,”kata pria yang bertugas di Polsek Darul Imarah itu, kepada Saladin, setibanya disebuah rumah toko yang dijadikan sekretariat.

Sejumlah warga yang melihat kehadiran duo petinggi TNI/Polri di Kota Banda Aceh tampak tersenyum. Mereka bangkit menyambut uluran tangan Saladin dan Iwan yang masih mengenakan seragam dinas.

“Silahkan duduk pak, kami juga masih menunggu bus yang membawa peserta yang akan tiba beberapa jam lagi,”sapa Eli, petugas wanita dari dalam sekretariat.

Saladin dan Iwan yang tadinya berdiri langsung menduduki kursi yang disediakan personel Satpol PP yang berjaga di Posko.  Berbagai topikpun menjadi pembicaran dalam bincang-bincang di sekretariat Papua malam itu.

“Ini kegemarannya sama, suka makan sirih juga orang Papua,”tanya Saladin, mengawali perbincangan malam itu.Sebuah pelastik berisih sirih terletak di meja. “Makan bu, dicoba dulu,”timpal Saladin sambil mengambil satu sirih.

“Saya sudah coba satu tadi, liat isinya apa, rupanya pinang,’balas Eli.

Meski tidak pernah bertugas di Provinsi Papua, Saladin menceritakan pengalamnya saat  berkunjung ke provinsi tersebut. Dia mengaku  terkesan dengan keberagaman suku disana meski masih dalam satu wilayah terkecil.

“Untuk nahan rasa pahitnya saya suka bantu pakai bawang putih bu,”kata Saladin saat pembicaraan membahas rasa dan kasiat buah merah khas Papua. “Kalau disini tidak ada pak, karena sudah dibawa ke arena Penas semua,”ujar Eli ditanya ketersedian buah merah di sekretariat tersebut.

Berbeda dengan Saladin, Iwan yang baru menjabat Dandim 0101/BS justru lebih mengenal kehidupan di Papua. Itu karena Iwan pernah bertugas di Kabupaten Meuroke .

“Saya sudah pernah rasa. Pernah bertugas di Meuroke tahun 2009 menjaga perbatasan,”kata mantan Waasops Kodam Iskandar Muda, saat ditanya rasa makanan khas Papua, Papeda.

“Enak, tapi suka nyangkut di tenggorokan jadi harus sering minum air,”ujar Iwan, bercerita pengalaman  menikmati makanan berbahan dasar sagu itu.

Tak terasa jarum jam di ruko telah menunjukkan pukul 02.00 wib. Perbincangan di sekretariat Papua malam itu, seakan tak ingin disudahi.  Sesekali perbincangan berubah menjadi tawa dan senyum, kala Saladin berkelakar.

Darul Imarah, Aceh Besar merupakan satu dari lima kecamatan yang menjadi lokasi yang banyak ditempati peserta Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (Penas KTNA) 15 tahun 2017 di Aceh. Tak hanya Aceh Besar, sejumlah rumah warga di Kota Banda Aceh juga menjadi tempat pilihan bagi peserta untuk menginap, selama acara digelar.

Bagi Saladin dan Iwan, perbincangan itu bukan sekedar menjalankan tugas menjaga keamanan dan kenyamanan bagi  peserta Penas yang akan dibuka presiden Jokowi, Sabtu 6 Mei 2017 besok.  Kehadirannya merupakan wujud memperkenalkan budaya Aceh dan keramahan warga.

Diberbagai kesempatan, pria berdarah Aceh itu, kerap berharap masyarakat di kota berjuluk Serambi Mekkah turut membangun citra positif tentang Aceh. Hal ini untuk membuang image buruk terkait kondisi keamanan Aceh paska konflik beberapa waktu silam.

“Kalau stigmanya tidak baik bagaimana Aceh mau membanguan. Investor itu berpikir jangka panjang.  Jadi Penas ini ajang untuk Aceh mempromosikan diri. Saya bersama Dandim menghimbau masyarakat Aceh meninggalkan kesan yang baik bagi peserta Penas,”kata Saladin.

Sejumlah persiapanpun telah dilakukan untuk memastikan keamanan dan kenyamanan acara yang diprediksi dihadiri 35.000 peserta dari Indonesia dan beberapa negara anggota Asean itu.

Selain mengerahkan pengamanan terbuka, sejumlah personel pengamanan tertutup juga disiagakan di sejumlah lokasi. Tak hanya itu kepolisian dan TNI di Kota Banda Aceh juga memantau kendaraan yang keluar masuk ke ibukota Provinsi Aceh, termasuk melakukan patroli rutin.

“Jangan coba-coba bermain, mengambil kesempatan di moment Penas. Kami ada disetiap sudut, terlihat maupun tidak,”tegas Saladin, yang mengaku mengerahkan seluruh potensi polresta Banda Aceh.

Ucapan tersebut, setidaknya dibuktikan Duo petinggi TNI/Polri itu saat moment pemilihan kepala daerah. Meski menjadi salah satu kota yang dinilai rawan namun pilkada di Banda Aceh berlangsung aman.

Kegemaran turun langsung kelapangan membuat sosok kedua pejabat TNI/Polri ini begitu dikenal masyarakat Kota Banda Aceh. Beberapa diantarannya bahkan mengungkap rasa simpati setelah bertatap muka.

“Selamat pak Kapolres, jan laen merumpok lom. Selama Nyoe Mantong rot tv ngon koran meukalon droen, (Selamat pak Kapolres, kapan kapan bertemu lagi. Selama ini hanya melihat anda lewat Tv dan koran,” Kata seorang warga Ajuen Jeumpet, mengakhiri perbincangan di Sekretariat Kontingen Provinsi Papua malam itu.()

SHARING

PinIt
submit to reddit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top