Cegah Radikalisme, Sat Binmas Polresta Banda Aceh Gelar FGD

fgd1.jpg

Tribratanewsbandaaceh – Upaya mensinergikan seluruh elemen baik dari pihak keamanan, instansi pemerintah dan unsur terkait serta seluruh elemen masyarakat dalam menangkal masuknya paham radikalisme di Kecamatan meuraxa, Satuan Binmas Polresta Banda Aceh menggelar kegiatan FGD ( Focus Group Discussion).

Kegiatan Focus Group Discussion dilaksanakan di Aula Kantor Camat Meuraxa, Kamis (13/9/18) Pagi, dihadiri Kapolresta Banda Aceh Diwakili Kasat Binmas Kompol faizal Wakapolsek Ipda Subagya, Camat Meuraxa Adiansyah S, STP, M.si,  Tokoh Masyarakat, serta para staf Binmas Polresta dan Bhabinkamtibmas dari Polsek Ulee Lheu.

Adapun Pemateri dalam kegiatan Drs. Azhari Kabid penerangan agama islam Aceh serta KBO Reskrim Iptu Khairul dengan menyampaikan materi tentang upaya-upaya dalam,” Menangkal Masuknya Paham Radikalisme” dan juga menjelaskan UU No 5 2018 atas perubahan UU No 15 tahun 2003 pengganti penetapan No 1 tahun 2002 tentang pemberantasan tindak pidana terorisme

Pemateri mengatakan,”Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa radikalisme adalah suatu paham yang menginginkan sebuah perubahan atau pembaruan dengan cara drastis hingga ke titik paling akar. Bahkan, untuk mencapainya melibatkan banyak cara hingga yang paling ekstrem: kekerasan baik simbolik maupun fisik. Secara sosiologis, setidaknya ada tiga gejala yang dapat ditengarai dari paham radikalisme, yaitu, pertama, merespons terhadap kondisi sosial-politik maupun ekonomi-yang sedang berlangsung dalam bentuk penolakan dan perlawanan. Terutama aspek ide dan kelembagaan yang dianggap bertentangan dengan keyakinannya. Kedua, dari penolakan berlanjut kepada pemaksaan kehendak untuk mengubah keadaan

secara mendasar ke arah tatanan lain yang sesuai dengan cara pandang dan ciri berpikir yang berafiliasi kepada nilai-nilai tertentu, semisal agama maupun ideologi lainnya.

Ketiga, menguatkan sendi-sendi keyakinan tentang kebenaran ideologi yang diyakininya lebih unggul daripada yang lain. Pada gilirannya, sikap truth claim ini memuncak pada sikap penafian dan penegasian sistem lain. Untuk mendorong upaya ini, ada pelibatan massa yang dilabelisasi atas nama rakyat atau umat yang diekspresikan secara emosional-agresif, ketiga gejala ini yang dimainkan penggerak paham radikalisme kian dapat panggung selebrasinya.

Forum diskusi tersebut berakhir dengan kesimpulan masyarakat setempat berkomitmen dan sepakat untuk menangkal masuknya paham radikalisme , akan menginformasikan dan melaporkan kepada aparat penegak hukum dan keamanan lainnya jika ditemukan atau diketahui adanya paham radikalisme berkomitmen untuk menciptakan situasi yang aman dan kondusif.

Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol Trisno Riyanto S.H menambahkan,”kepada masyarakat kami minta mengawasi apabila ada paham radikal yang tidak jelas asal usulnya. Apalagi yang berhubungan dengan memecah belah bangsa, karena ini sangat rentan sekali apalagi sekarang menjelang pemilu, eskalasi konflik harus dicegah demi mensuksekan pemilu 2019 nanti,”tandas Kapolresta.

 

SHARING

PinIt
submit to reddit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top